Bismillahirrahmanirrahim | Berkata Abdullah ibnu Abbas radhiallahu 'anhu: "Tidaklah datang kepada manusia suatu tahun yang baru melainkan mereka pasti akan membuat bid'ah baru dan mematikan sunnah sehingga hiduplah bid'ah dan matilah sunnah." Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah di dalam kitab Al Bida' wan Nahyu 'anha | Berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullahu ta'ala: "Bid'ah lebih disukai Iblis daripada maksiat karena maksiat akan ditaubati sedangkan bid'ah tidak akan ditaubati." Diriwayatkan oleh Al Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah (1/216) | Berkata Sufyan bin Uyainah rahimahullahu ta'ala: "Barangsiapa yang rusak dari kalangan ulama kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan ulama Yahudi dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan ahli ibadah Nasrani." |

Cara Penilaian Niat dan Amalan Seorang Muslim

بسم الله الرحمن الرحيم

Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (6491) dan Imam Muslim (131) dari Abdullah bin Abbas radhiallahu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Allah tabaraka wa ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya Allah telah mencatat kebaikan dan kejelekan kemudian menerangkannya. Barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan namun dia tidak melakukannya, maka Allah menuliskan baginya di sisi-Nya satu (pahala) kebaikan yang sempurna. Jika dia bertekad melakukan suatu kebaikan lalu dia melakukannya, maka Allah menuliskan baginya di sisi-Nya sepuluh (pahala) kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat hingga lipatan yang banyak. Barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kejelekan namun dia tidak melakukannya, maka Allah menuliskan baginya di sisi-Nya satu (pahala) kebaikan yang sempurna. Jika dia bertekad melakukan suatu kejelekan lalu dia melakukannya, maka Allah menuliskan baginya satu (dosa) kejelekan.”

Di dalam hadits ini diterangkan bagaimana cara Allah menilai dan mencatat niat dan amalan yang dilakukan oleh setiap hamba. Berikut ini adalah perinciannya:

1. Jika melakukan kebaikan, dia mendapatkan pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.

Setiap muslim yang melakukan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala dimulai dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Bahkan Allah terkadang menambah lebih dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.

Pemberian pahala sebanyak sepuluh kali lipat bagi seorang muslim yang berbuat kebaikan adalah suatu kepastian berdasarkan firman Allah ta’ala:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa yang membawa suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan (pahala) sepuluh kali lipatnya.” [QS Al An’am: 160]

Adapun pemberian pahala lebih dari sepuluh, maka ini merupakan hak khusus Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah itu Wasi’ (Maha Luas karunia-Nya) lagi ‘Alim (Maha mengetahui).” [QS Al Baqarah: 261]

2.  Jika melakukan kejelekan, dia mendapatkan satu dosa.

Setiap muslim yang melakukan suatu kejelekan, maka dia akan mendapatkan satu dosa. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa yang membawa perbuatan jelek, maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan sesuai dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” [QS Al An’am: 160]

3. Jika bertekad melakukan kebaikan tapi tidak jadi dilakukan, dia mendapat satu pahala sempurna.

Setiap muslim yang bertekad untuk untuk melakukan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan satu pahala sempurna meskipun dia tidak jadi melakukannya. Dalilnya adalah hadits Abu Ad Darda` radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِى أَنْ يَقُومَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى يُصْبِحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى، وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ

“Barangsiapa yang mendatangi tempat tidurnya dan dia berniat bangun untuk melaksanakan shalat di malam hari lalu dia tertidur sampai Subuh, maka akan dituliskan baginya pahala apa yang telah dia niatkan, dan tidurnya itu merupakan sedekah untuknya dari Rabbnya.” [HR Ibnu Majah (1344) dan Al Baihaqi (4911). Hadits shahih.]

4. Jika bertekad melakukan kejelekan tapi tidak jadi dilakukan, dia mendapat satu pahala sempurna.

Hal ini berlaku dengan syarat apabila dia meninggalkan perbuatan jelek tersebut karena semata-mata mengharapkan ridha Allah ta’ala dan takut kepada-Nya. Adapun jika dia meninggalkan kejelekan tersebut karena takut kepada seseorang, mengharapkan pujian dari orang, ataupun karena terpaksa oleh situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, maka dia tetap mendapatkan dosa.

Dalilnya adalah hadits Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasul صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan pedang mereka, maka si pembunuh dan yang terbunuh sama-sama masuk ke dalam neraka..” Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, si pembunuh ini (pantas masuk ke neraka), lantas kenapa pula orang yang terbunuh (juga masuk neraka)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya dia (yang terbunuh) telah bertekad untuk membunuh temannya (si pembunuh).” [HR Al Bukhari (31) dan Muslim (2888)]

Di dalam hadits di atas diterangkan bahwa orang yang terbunuh itu juga dihukum di neraka karena sebelum terbunuh dia sudah bertekad untuk membunuh si pembunuh, hanya saja dia tidak berhasil melakukan karena sudah lebih dahulu terbunuh.

Demikianlah cara-cara pencatatan niat dan amalan yang dilakukan oleh seorang muslim sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu di atas.

PERHATIAN!

1. Ada suatu hal yang berkaitan dengan masalah ini yang harus diketahui, yaitu meskipun satu kejelekan hanya dibalas dengan satu dosa sebagaimana yang disebutkan di nomor dua, akan tetapi dosa itu dapat menjadi besar jika dilakukan pada waktu dan tempat tertentu, atau oleh pelaku tertentu.

Contohnya adalah melakukan perbuatan dosa pada bulan haram (Muharram, Rajab, Dzulhijjah, dan Dzulqa’dah) dosanya lebih besar daripada melakukannya pada selain bulan haram. Sebaliknya, melakukan kebaikan pada bulan-bulan haram, maka pahala yang didapatkan juga lebih besar daripada selain bulan haram. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian (dengan berbuat dosa) dalam bulan yang empat itu.” [QS At Taubah: 36]

Contohnya lainnya adalah melakukan perbuatan dosa pada daerah haram (Mekkah dan Madinah) dosanya lebih besar daripada melakukannya pada selain daerah haram. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Barangsiapa yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya (negeri Mekkah), niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [QS Al Hajj: 25]

Contoh perbuatan jelek akan menjadi lebih besar dosanya jika dilakukan oleh orang atau kalangan tertentu adalah firman Allah ta’ala:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

“Wahai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antara kalian yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Demikian itu adalah mudah bagi Allah. Barangsiapa di antara kalian sekalian tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” [QS Al Ahzab: 30-31]

Ayat di atas juga menerangkan bahwa jika para istri Nabi صلى الله عليه وسلم melakukan perkara kebaikan maka mereka akan mendapat pahala yang lebih besar dibandingkan dengan orang-orang selain mereka.

2. Orang kafir yang memiliki niat baik ataupun melakukan suatu perbuatan baik tidak mendapatkan pahala apapun jika dia tetap berada di dalam kekafirannya sampai dia meninggal. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [QS Al Furqan: 23]

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [QS Al An’am: 88]

والحمد لله رب العالمين

Sumber: Disadur dengan perubahan seperlunya oleh admin dari kitab Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam karya Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah.